|
"Batuan
tersebut meledak dengan sebuah kilatan cahaya yang 10 kali lebih terang
dari apa yang pernah kami lihat sebelumnya," kata Bill Cooke, imuwan
NASA di pusat penelitian luar angkasa Marshall Space Flight Center di
Huntsville, Alabama dalam sebuah pernyataan. <p>
Sebuah
satelit NASA yang berada di orbit bulan tengah mencari kawah baru yang
terbentuk dari tabrakan itu, yang diperkirakan bisa seluas 20 meter.
<p>
Kilatan
cahaya yang dihasilkan juga begitu terang sehingga sesiapa yang pada
saat peristiwa tersebut tengah melihat bulan bisa menyaksikan kilatan
cahaya tersebut tanpa menggunakan teleskop, kata NASA. <p>
Setelah
menyaksikan rekaman digital dari salah satu program teleskop itu, para
ilmuwan memperkirakan diameter batuan luar angkasa itu mencapai 0,3
meter dan bergerak dengan kecepatan 90.123 km per jam saat menabrak
bulan serta meledak dengan kekuatan lima ton TNT. <p>
Pada
malam yang sama, kamera pemantau juga mendeteksi sejumlah besar
meteorit di luar kebiasaan, yang menabrak atmosfer bumi. Sebagian besar
meteor tersebut terbakar habis sebelum mencapai permukaan bumi.
<p>
Namun
itu tidak selalu terjadi. Pada Februari lalu, sebuah asteroid
diperkirakan berdiameter 20 meter meledak di atas Chelyabinsk, Rusia
sehingga merusak bangunan, kaca-kaca hancur, dan lebih dari 1,500
penduduk terluka. <p>
Asteroid tersebut merupakan benda luar angkasa terbesar yang pernah menabrak bumi sejak 1908.
"Bola
api di Rusia itu ukurannya berlipat-lipat lebih besar dan memiliki
energi 100 ribu kali dari tabrakan di bulan itu, kata Cooke dalam surat
elektroniknya kepada Reuters. <p>
Dia
yakin tabrakan di bulan dan hujan meteor pada 17 Maret itu berkaitan,
sebagai akibat kedua benda angkasa itu sama-sama tengah melintas di
jalur ruang angkasa yang tengah dihujani dengan batuan kecil dan debu.
<p>
"Kami
akan terus memantau tanda-tanda berulangnya peristiwa ini tahun depan,
saat sistem bumi-bulan melewati jalur ruang angkasa yang sama," kata
Cooke.
|
Meteorit Tabrak Permukaan Bulan, Ini Dampaknya
Meteorit Tabrak Permukaan Bulan, Ini Dampaknya
REPUBLIKA.CO.ID,
FLORIDA -- Teleskop otomatis pemantau bulan menangkap bayangan batuan
seberat 40 kg yang menabrak permukaan bulan sehingga menciptakan
kilatan cahaya sangat terang, kata ilmuwan NASA, Jumat. Ledakan pada 17
Maret itu merupakan yang terbesar akibat tabrakan meteorit sejak NASA
mulai memantau bulan sekitar delapan tahun lalu. Sejauh ini, NASA telah
mencatat lebih dari 300 tabrakan meteorit. <p>
|
|
"Batuan
tersebut meledak dengan sebuah kilatan cahaya yang 10 kali lebih terang
dari apa yang pernah kami lihat sebelumnya," kata Bill Cooke, imuwan
NASA di pusat penelitian luar angkasa Marshall Space Flight Center di
Huntsville, Alabama dalam sebuah pernyataan. <p>
Sebuah
satelit NASA yang berada di orbit bulan tengah mencari kawah baru yang
terbentuk dari tabrakan itu, yang diperkirakan bisa seluas 20 meter.
<p>
Kilatan
cahaya yang dihasilkan juga begitu terang sehingga sesiapa yang pada
saat peristiwa tersebut tengah melihat bulan bisa menyaksikan kilatan
cahaya tersebut tanpa menggunakan teleskop, kata NASA. <p>
Setelah
menyaksikan rekaman digital dari salah satu program teleskop itu, para
ilmuwan memperkirakan diameter batuan luar angkasa itu mencapai 0,3
meter dan bergerak dengan kecepatan 90.123 km per jam saat menabrak
bulan serta meledak dengan kekuatan lima ton TNT. <p>
Pada
malam yang sama, kamera pemantau juga mendeteksi sejumlah besar
meteorit di luar kebiasaan, yang menabrak atmosfer bumi. Sebagian besar
meteor tersebut terbakar habis sebelum mencapai permukaan bumi.
<p>
Namun
itu tidak selalu terjadi. Pada Februari lalu, sebuah asteroid
diperkirakan berdiameter 20 meter meledak di atas Chelyabinsk, Rusia
sehingga merusak bangunan, kaca-kaca hancur, dan lebih dari 1,500
penduduk terluka. <p>
Asteroid tersebut merupakan benda luar angkasa terbesar yang pernah menabrak bumi sejak 1908.
"Bola
api di Rusia itu ukurannya berlipat-lipat lebih besar dan memiliki
energi 100 ribu kali dari tabrakan di bulan itu, kata Cooke dalam surat
elektroniknya kepada Reuters. <p>
Dia
yakin tabrakan di bulan dan hujan meteor pada 17 Maret itu berkaitan,
sebagai akibat kedua benda angkasa itu sama-sama tengah melintas di
jalur ruang angkasa yang tengah dihujani dengan batuan kecil dan debu.
<p>
"Kami
akan terus memantau tanda-tanda berulangnya peristiwa ini tahun depan,
saat sistem bumi-bulan melewati jalur ruang angkasa yang sama," kata
Cooke.
|







0 komentar:
Posting Komentar